Perkembangan teknologi dalam dunia smartphone semakin maju. Salah satu fitur terbaru yang membuat para pengguna semakin senang adalah fitur fingerprint dalam system keamanannya. Penggunaan fingerprint recognition untuk membuka kunci layar membuat sistem pengamanan dengan memakai model biometric sekarang menjadi elemen pengaman paling umum dipakai di smartphone terkini.

Namun, menurut penelitian terbaru sistem pengamanan fingerprint ternyata tidak terlalu aman. Sehingga jika HP tertinggal di masjid dan tergeletak begitu saja diatas karpet masjid, kemudian ditemukan orang lain, bisa jadi bahaya.

Menurut peneliti keamanan siber dari Cisco Talos Intelligence, Paul Rascagneres dan Vitor Ventura, terdapat sejumlah perangkat yang dilengkapi fitur fingerprint recognition yang bisa dibuka dengan sidik jari palsu dengan tingkat keberhasilan hingga 80%. Bahkan untuk beberapa perangkat tertentu, seperti iPhone 8, Macbook Pro 2018 dan Samsung Galaxy S10, bisa mencapai 90%.

Bisa Dijebol Lewat Sidik Jari Palsu, Penelitian Terbaru Soal Fitur Fingerprint

Metode Pembuatan Sidik Jari Palsu

Penelitian dilakukan denganpercobaan pada tiap perangkat yang diuji, dengan menggunakan sidik jari buatan. Rata-rata dari 20 kali percobaan itu, sidik jari buatan sukses menembus pengaman fingerprint hingga 80%, atau 16 kali di antaranya sukses “menipu” sensor sidik jari pada perangkat tersebut. Angka tersebut terbilang cukup tinggi sehingga efektifitas fingerprint sebagai pelindung keamanan perangkat patut diragukan.

Rascagnares dan Ventura mengambil jejak sidik jari dari tiga metoda berbeda dalam penelitiannya. Pertama, langsung menempelkan sidik jari ke bahan plastisine untuk mendapatkan pola sidik jari. Kedua, mengambil jejak sidik jari dari mesin pemindai –seperti dari mesin absen, di antaranya. Ketiga, mengambil jejak sidik jari yang tertinggal pada benda-benda yang sering dipegang, seperti gelas, pegangan pintu, dan sebagainya.

Selanjutnya, jejak sidik jari tersebut  diolah dengan computer untuk membuat pola sidik jari tiga dimensi. Setelah cetakan jadi, dibuatlah sidik jari tiruan dengan menuangkan lem tekstil, silicon, lem biasa, dan sebagainya, ke dalam cetakan. Sidik jari tiruan itulah yang digunakan untuk mencoba membuka kuncian perangkat.

Hasil penelitian Rascagneres dan Ventura ini tentu cukup membuat para pengguna smartfren dengan fitur tersebut merasa was-was. Namun sebenarnya tak perlu juga khawatir yang berlebih. Sebab,apabila system keamanan dijebol dengan cara seperti diatas, maka kemungkinan hal itu hanya dilakukan oleh orang yang benar-benar berniat untuk mencuri data dari perangkat seseorang.

Pasalnya untuk membuat sidik jari tiruan itu bukanlah hal yang mudah. Selain prosesnya yang rumit, dibutuhkan pula peralatan yang canggih, seperti mesin printer tiga dimensi, dengan spesifikasi khusus pula. Namun tentu saja kita semua patut untuk waspada menjaga barang-barang dan data pribadi yang penting.

Hasil penelitian Rascagneres dan Ventura dapat ditemukan dalam blog talosintelligence.com.

Post Your Thoughts